"Minako... dia diculik oleh Strega," ucap Akihiko dengan sisa tenaganya. Seluruh penghuni Dorm terkejut dengan apa yang dikatakan Akihiko.
"APA?" teriak Minato tidak percaya.
"Itu... nggak mungkin kan?" tanya Yukari yang juga tidak percaya dengan Akihiko.
"Jangan bercanda, Aki," tambah Shinjiro.
"AKU TIDAK SEDANG BERCANDA! KAU PIKIR BAGAIMANA CARANYA AKU BISA JADI SEPERTI INI?" teriak Akihiko dengan emosi.
PLAK!
Sebuah tamparan mendarat di pipi Akihiko. Seluruh anggota Dorm sontak memandang ke arah sang penampar, tak lain dan tak bukan adalah kakak Minako, Minato Arisato.
"Kenapa? Kenapa kau tidak mencegahnya?" teriak Minato. Mukanya merah karena menahan amarah. Tangan kanannya mulai mangepal untuk memukulnya.
"H-Hei dude, mungkin Aki-senpai sudah berusaha mencegahnya, coba lihat dia!" Junpei berusaha menenangkan Minato.
"BERISIK! KAMU NGOMONG BEGITU KARENA KAMU NGGAK TAU PERASAANKU KAN?" teriak Minato yang sudah panasan.
Yuuki : "ih, panas euy!"
Kagami : "Ya iyalah, namanya juga tatapan 'kaktus gurun sahara'!"
Minato : "Cepet terusin... CEPET!"
Kagami : "ya, iya! Kita lanjut!"
"Hentikan!" akhirnya Ken melerai mereka, "Jangan berkelahi, kumohon," Matanya mulai berkaca-kaca, membuat Minato mengurungkan niatnya untuk meninju Akihiko.
"Cih, cepat obati dia dengan Oracle," suruh Minato pada Fuuka.
"B-Baik," sahut Fuuka.
"Kita akan susun rencana setelah dia diobati," Minato menjauh dari semuanya, berjalan ke arah tangga menuju kamarnya di lantai dua.
"Tartarus..." ucap Akihiko yang sedang diobati Fuuka menggunakan Oracle. Minato terhenti mendengar ucapan sang ketua klub tinju tersebut, "Strega menunggu kita di Tartarus,"
Minato membalikan badannya, menatap semua orang (termasuk robot dan anjing) yang sedaritadi memerhatikan mereka berdua bak menonton telenovela. "Apa yang kalian lakukan? Cepat siap-siap! Kita akan ke Tartarus!"
"Aye aye, Sir!" teriak Aigis, Junpei, Yukari, dan Ken. Koromaru hanya menggonggong menanggapi perintah Minato. Sementara yang lainnya hanya diam.
4 orang itu pun berlari menaiki tangga, menuju kamar mereka masing-masing.
"Kalau kalian tidak mau ikut, kami sendiri juga bisa menyelamatkan Minako," kata Minato dengan dingin kepada tiga senpainya yang lain. Lalu berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
"Kenapa sih dia? Padahal tidak biasanya dia tidak seperti ini," keluh Mitsuru.
"Itu hanya topeng," jelas Shinjiro.
"Maksudmu?"
"Ya, dia bersikap seperti itu karena dia ingin menutupi perasaan khawatirnya,"
"Bagaimana senpai bisa tau?" tanya Fuuka yang sedang memakai skill Oracle di dalam Lucia. (di sini Lucia udah punya Oracle =P)
"Aku bisa melihat dari matanya" jawabnya singkat.
Tik... tik... jarum jam terus berdetik. Jam 11.50, sebentar lagi Dark Hour akan tiba. Semua anggota S.E.E.S. sudah berada di Command Room, kecuali Ken, Junpei, Koromaru dan Aigis.
"Semuanya sudah lengkap?" tanya Minato.
"Sebenernya sih, nggak, Aigis, Ken, Koromaru, sama Stupei nggak ada di sini," jawab Yukari.
"Kemana mereka?"
"Mmm... Katanya hari ini Ken-kun harus belajar, Junpei juga harus belajar untuk remedial matematika besok, sementara Aigis dan Koro-chan berjaga di Dorm," jelas Fuuka dangan rinci.
Minato menoleh ke arah Akihiko, "Lukamu sudah sembuh?" tanya Minato dengan nada acuh tak acuh.
"Ya, tentu saja," jawab Akihiko. Dilihatnya Minato yang masih menatapnya. "Apa?"
"Nggak apa-apa," kata Minato, "nah, ini adalah peta luar Tartarus," ia mengeluarkan sebuah kertas dari saku jaketnya.
"Tunggu Arisato," cegah Mitsuru, "darimana kamu dapat peta ini? Bukankah ini peta rahasia milik Kirijo Group?"
"Nggak tau, peta ini kan udah di-'remake' sama authornya, dengan kata lain, ini 'fake map for this fanfiction',"
"Oww, gitu toh ternyata," kata seluruh anggota S.E.E.S. yang laen dengan leganya.
"But... kalo petanya kayak gini, alhasil Tartarusnya jadi kayak gini juga," peringat Mitsuru.
"Jadi ada kolam 5 meter," kata Minato ngeri.
"Emangnya kenapa?" tanya Yukari.
"Nggak bisa berenang..."
All S.E.E.S. & readers : *sweatdropped*
"Kalo gitu ini 'fake Tartarus' dong ya?" tanya Akihiko yang masih terkena penyakit sweatdropped. (?)
"Yo'i," jawab semua anggota S.E.E.S. yang lain.
"Sebentar lagi Dark Hour, kapan kita susun rencananya?" tanya Shinjiro tidak sabar.
"Oke, oke, jadi begini..." Minato memulai menyusun rencana untuk menyelamatkan adiknya itu. 10 detik... 30 detik... 1 menit... 5 menit... 10 menit... dan tibalah Dark Hour.
"Walah, geus Dark Hour deui, euy! (Walah, udah Dark Hour lagi, nih!)" seru Yukari. (loh, kok jadi bahasa Sunda begono?)
"Bukankah lebih baik kita ke Tartarus sekarang?" saran Mitsuru.
"Ya, itu ide yang bagus, ayo kita ke Tartarus sekarang," komando sang leader, Minato.
Di halaman belakang Tartarus (loh, emangnya ada?), terlihat sebuah api unggun yang dikelilingi oleh 3 orang yang sedang memanggang daging (eh?) dan seorang gadis yang tangan dan kakinya diikat oleh tali.
"Jadi... apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Chidori yang masih asyik memanggang daging.
"Jawabannya sama, nungguin anggota S.E.E.S. kesini," jawab Jin. Seketika itu juga hening melanda.
"By the way busway," Jin memecah keheningan, "gimana caranya lu bisa nyalain api?"
Takaya yang ditanyai oleh Jin pun menjawab, "Masa lupa sih, dulu kan eike anak Pramuka, cyin,"
"Yang ada juga anak Pramuka yang jijik ngeliat lu," Minako nyolot dengan suara keras.
"Apa lu bilang?"
DOR!
Sebuah peluru melesat di kaki kanan Minako. Gadis itu hanya bisa berteriak kesakitan.
"Nggak seru," keluh Chidori.
"Kalau begitu apa yang bisa membuatmu senang, Chidori?" tanya Takaya (banci mode off) *author ditembak pake bazooka*
"Kita santet orang yang dia sayangi," jawab gadis berambut merah itu dengan senyum sinis.
"Hm, ide bagus," Jin ikut menanggapi, "siapa ya kira-kira, Akihiko, Shinjiro, atau Ken?"
"Bukan," jawab Chidori, "orang yang dia sayangi adalah kakaknya, Minato Arisato,"
-Minato's POV-
Jantungku berdetak semakin cepat. Apakah Minako baik-baik saja? Apa yang sebenarnya diingikan Strega? Kepalaku pun dipenuhi oleh pertanyaan-pertanyaan itu.
Kenapa harus dia yang mengalami semua ini? Kenapa bukan aku saja? Minako sangat berarti untukku. Dia satu-satunya keluarga yang aku punya. Aku akan melakukan apa saja asalkan dia bisa tersenyum, meskipun nyawaku yang menjadi bayarannya.
"Minato, Minato-kun!" Fuuka menyadarkanku dari pikiran-pikiran itu, "Kamu baik-baik saja? Mukamu pucat sekali..."
"Aku nggak apa-apa," jawabku yang masih berlari menuju Tartarus.
"Bener kamu nggak apa-apa?" tanya Shinjiro-senpai yang nggak ada capeknya berlari.
"Iya, aku nggak apa-apa,"
"Jangan bohong,"
"Aku nggak bohong,"
"Aku bisa melihatnya di matamu,"
Aku hanya bisa tercengang, benarkah aku terlihat seperti orang yang khawatir? Ah, itu tidak penting. Yang penting, sekarang aku harus mempercepat lariku.
-Minato's POV end-
Minako hanya bisa menangis tanpa suara, menahan perihnya peluru yang menembus kulitnya. Tiga orang di depannya tidak peduli dengan apa yang dirasakannya. Mereka hanya menyusun rencana yang akan mereka lakukan selanjutnya.
"Jadi, siapa yang bakalan nyantet? Kan kita bertiga gak bisa nyantet," tanya Jin.
"Itulah gunanya Facebook (promosi?), aku punya temen yang bisa nyantet!" jawab Chidori bangga.
"Oh, bagus deh, di mana dia?" tanya Takaya yang clingak-clinguk kanan-kiri atas-bawah depan-belakang (kapan selesenya?)
"Tuh, di sana," Chidori menunjuk ke arah belakang Takaya dan Jin. Terlihat seorang gadis kecil yang berumur enam tahun berdiri di sana. Anak itu mengendong sebuah tas besar yang mencurigakan.
"Yo, Chidori-pyon," sapa si anak kecil.
"Ah, Loco-san, met Dark Hour," Chidori menyapa balik. (inget, sekarang lagi Dark Hour _^)
"Dia? Dia yang bakalan nyantet si anak emo itu? Anak kecil ini?" tanya Jin yang lagi nunjuk-nunjuk Loco.
"Anjir, sembarangan lu, gini-gini gue udah 32 tahun tau," jelas Loco sambil marah-marah.
"EKH? WHAT?" teriak Jin dan Takaya barengan.
"Okeh, lanjut! Chidori-pyon, lu yang minta gue nyantet orang? Mana orangnya?" tanya Loco.
"Kalo sekarang sie belum dateng, palingan–"
"MINAKO!"
Sebuah teriakan datang dari pintu gerbang Tartarus. (Loh, emangnya ada? Eh, emang ada ya?)
Ternyata, suara itu berasal dari Minato yang terengah-engah karena berlari habis berlari kencang. Yang disusul dengan kedatangan yang lainnya.
"Ah! Itu dia orangnya!" Chidori nunjuk-nunjuk Minato sambil lompat-lompat gak jelas kayak kelinci kebakar buntutnya terus––iya, ampun! jangan lempar batakonya!
"Oh, dia yah, okelah, kalo gitu kalian urus yang lainnya," perintah Loco. (sebenernya siapa yang boss siapa yang anak buah sie?)
"Oke Mbah!" (Mbah?)
"Woi! Anak emo! Kalo berani lawan gue! 1 vs 1!" tantang Loco yang langsung menurunkan tas dari punggungnya.
"Aduh, jangan bercanda dek, anak kecil kayak lu jangan di sini, bahaya!" jawab Minato (ngejek maksudne).
"Anjir! Gini-gini Loco udah 32 taun! Lu udah bikin gue marah! Sekarang terima balesannya! Penyegelan gerakan, Neguzero!"
DEG!
Tiba-tiba saja tubuh Minato berguncang. Ada apa ini? Ia mencoba menggerakan tubuhnya, namun tidak bisa.
"Waw, apaan in?" teriak Minato yang masih bingung dengan apa yang terjadi.
"Itu Neguzero, salah satu dari alat kutukan milikku, nah sekarang..." Loco meraba-raba isi tas kopernya. Beberapa detik kemudian dia mengeluarkan suatu benda yang mirip dengan boneka jerami.
"Straw doll! Spike and hammer!"
"Uwakh! Apaan lagi itu? Alat buat nyantet?"
"Ho-oh, tumben ada orang pinter kayak lu,"
"Dimana-mana juga orang tau boneka jerami gede gitu buat apaan!"
"Berisik lu! First spike!"
Loco pun mulai menancap paku tersebut dan mengetuknya dengan palu besar yang ada di tangan kanannya.
Yuuki : "WADAOW!"
Kagami : "Kenapa lu ki?"
Yuuki : "Woi Loco, kok nyantet gue!"
Loco : "Wah maaf, gue salah sasaran."
Yuuki : "Gak ada maaf buat lu, siap-siap aja lu gue tebas!" * ngeliuarin Light Sword & Dark Sword*
Loco : "AMPUUUUUUUUUUUUUN!"
Readers: *sweatdrooped*
Dua jam kemudian...
Yuuki : "Oke, urusan gue ama Loco udah selesai karena gue capek, Kagami..."
Kagami : "Okelah kalo gitu (masih sweatdropped), kita lanjut! ^_"
"AAAAAKH!" Minato hanya bisa menjerit karena rasa sakit yang luar biasa mulai terasa di tangan kirinya.
"KAKAK!" teriak Minako yang sudah diangkut trio Strega ke atas tebing deket kolam 5 meter.
"Aku... *hosh* kalau cuma segini ...*hosh* aku nggak akan kalah!"
"Cih, sombong amat," Loco mengambil paku yang kedua, "rasain nih, second spike!"
NYUT!
Kali ini rasa sakit itu menyelimuti dadanya. Rasanya seperti ditusuk oleh 3 pedang secara bersamaan.
"Nggak mati? Padahal 2 paku aja orang udah mati shock, third spike!"
Kagami : "UGYAA!"
Yuuki : "Kenapa lu mi?"
Kagami : "Kayaknya ada yang nusuk pantat mulus (?) gue nih, gan,"
Loco : "Oh, sori, gue salah target (lagi),"
Kagami : "Anjir lu! Mau gue seret ke Dark Mirror's Hell lu?" *ngeluarin Twin Dark Serenade*
Loco : "WAAAAA! "
Dua jam kemudian...
Kagami : "Anjir, gue belum puas, tapi demi para readers apa boleh buat, gue tunda nyiksa si Loco,"
Yuuki : "Ya udah deuh *gak sweatdropped*, kita lanjut aja,"
Minato hanya tersenyum penuh siasat, "Aku... *hosh* gak akan... *hosh* kalah!" Sekali lagi, Minato mencoba menggerakan tubuhnya, tetapi tetap saja hasilnya sama. Namun dia tidak menyerah, dia mencoba terus dan terus.
PRAK!
Loco hanya heran melihat Neguzero miliknya, "Neguzeroku? Rusak?" Gadis itu pun melihat ke arah lawannya. Ternyata dia sudah terbebas dari kutukan Neguzero.
Minato pun langsung mengambil dan memakai evokernya, "Orpheus! Agidyne!" (note: di ff ini persona level rendah nan cupu pun punya skill tinggi -_-)
BLAR!
WEAK!
Loco hanya bisa tersungkur. Dia tidak pernah mengira ini akan pernah terjadi. Nggak mungkin ada yang bisa bebas dari kutukannya.
"Ah! Gak berguna lu!" teriak Jin sambil nendang Loco ke dunia sana, boong deng, cuma sampe Mars doang.
"Mestinya dari dulu lu direkrut sama PSSI tuh, biar menang lawan Malaysia kemaren!" seru 8 chara dan 2 author.
"Iya nie, mestinya gue direkrut! Biar bisa masukin gol 20-0!"
"Betul itu, tau gak waktu kemaren katanya––"
Kagami : "STOP! Kok jadi pada ngomongin piala AFF? Eventnya udah lewat tau!"
Jin : "Oh, sori sori, abis gue gemes sie, kenapa kemaren gak Indon aja yang menang?"
Yuuki : "Haduh... ini ff apa curcol sie? Lanjut, gan!"
"Aaaah, ternyata dia ngak berguna," ungkap Chidori. Yang lainnya hanya diam.
"Okelah," akhirnya Takaya mulai berbicara dari atas tebing bersama 2 teman dan 1 tawanannya itu, "IT'S BATTLE TIME!" *BGM: 'Sake Rare nu Tatakai'*
"Pertama gue dulu yah , gan," kata si Jin Tomang, eh, maksudne Jin dari Strega, "Moros, Agidyne!"
BLAR!
MITSURU KIRIJO : WEAK
Sekarang, giliran Akihiko, "Halah, sialan lu! Ziodyne!"
TAKAYA: 132 HP DAMAGE
"Halah, Ziodyne doang bangga! Rasain nih! Bufudyne!" Takaya menyerang dengan personanya, Hypnos.
AKIHIKO SANADA: WEAK
Kali ini adalah giliran Yukari, "Hidih, ngeri gue, Garudyne!"
CHIDORI: 107 HP DAMAGE
"Berani-beraninya lu melukai Chidori yang imut-imut ini!" teriak Chidori, (3 chara dan 2 author langsung muntah ditempat) "Haiyah! Ziodyne!" (Readers : loh, emangnya punya?)
Kagami : "Lupa, soalne gue langsung menang sekali serang pas lawan Chidori dulu," V(*w*)V
Yuuki : "Namanya juga ff gaje bin abal, apa aja bisa terjadi tanpa memedulikan story line, lanjut!"
YUKARI TAKEBA: WEAK
"Waw, sisana tinggal 2 cucunguk deui euy! (waw, sisanya tinggal 2 kecoa lagi nih!)" sahut Jin. (kenapa ikut-ikutan pake bahasa Sunda ini?)
Nah, BGM ganti lagi jadi 'Battle of Everyone's Soul'. Apa? Buat lawan Nyx Avatar? Iya deh, kita ganti jadi 'Master of Saos Tartar'. Loh, masih salah juga? Okelah, ganti jadi 'Master of Tartarus' aja deh.
"Hm, ada yang gue bingungin nih," kata Takaya tiba-tiba.
"Apaan tuh, gan?" tanya Jin.
"Si Shinjiro itu weak sama apaan ya?"
"Halah, itu sih gampang gan!"
"Apaan?"
"Tanya aja authornya!"
"Ye ilah, gue kira lu tau, dasar Jin Tomang lu,"
"Apa?"
"Oh, gapapa, woy author nun jauh di mato! Lu tau ga weaknya?"
Yuuki : "Nyerah, tanya sama yang lebih ahli," *nunjuk author satu lagi*
Kagami : "Nyerah juga, walopun gue udah pernah new recycle tiga kali gue jarang pake Shinji, terus baru-baru ini PSPnya rusak dan belum diservis, abis itu gue lupa-lupa-inget sama skill dan weak lu semua, jadinya gaw dikit-dikit ngarang, abis itu––"
"Ah lanjut deuh, lu ngasih tau apa curcol sie? Bingung gue,"
Kagami : "Heh! Gue emang lagi curcol! Ada masalah lu ama gue? Mau gaji lu dipotong 3 bulan?"
Yuuki ; "Weis... sabar bu, kita lanjut aja deh, daripada ngelamain, -_-"
Minato mengarahkan mata pedangnya ke arah Takaya. "Katakan, apa yang kalian inginkan?"
Takaya hanya tersenyum licik. "Hanya sebuah permintaan gampang kok,"
"Kalau gitu, apa permintaan itu?" tanya Shinjiro yang udah nggak speechless lagi. *author di God's Hand*
"Membatalkan rencana 'Fullmoon' kalian dan bubarkan S.E.E.S., gampang bukan?"
"Hah, yang bener aja lu? Sinting lu ya?" teriak Minato yang emosinya jadi guk-guk-guk miaw-miaw mbe-mbe uu-aa dkk.
"Ya udah kalo lu gak mau, tapi," Takaya menodongkan revolvernya ke arah kepala Minako, "kalo lu gak mau, nyawa ade tersayang lu bakal melayang!"
Saat ini Minato sedang dilanda dua pilihan yang sulit, apa yang akan dipilihnya? Nyawa para umat manusia ataukah nyawa adiknya.
Tiba-tiba Minako berteriak dari atas tebing itu, "Jangan pedulikan aku, kak! Biar saja aku mati, asalkan semua orang tidak terancam dalam bahaya,"
"Idih, berisik amat sih lu!" teriak Chidori yang daritadi memegangi Minako.
Akhirnya, Minato mengangguk mantap, "aku... aku nggak akan pernah membubarkan S.E.E.S.!"
"Cih, perjanjian batal! Ayo kita pergi!" akhirnya Takaya memberi komando. Anggota Strega yang lain hanya mengangguk.
"Nah..." Chidori berkata pada orang yang sedang dipeganginya itu, "selamat tinggal!"
Chidori melempar Minako ke arah kolam 5 meter dalam keadaan kaki-tangan yang diikat.
"KYAAAA!"
"MINAKOOO!"
BYUR!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar